Kutai Timur –
Di balik gugusan perbukitan dan jalanan tanah yang berkelok, Desa Telaga di Kecamatan Batu Ampar menyimpan kisah keteguhan para petani yang tetap setia menanam padi. Meski lahan yang tersedia tidak luas dan kondisi kontur tanah cukup menanjak, hal tersebut tidak menyurutkan langkah mereka untuk terus mengolah tanah dan mempertahankan tradisi bertani yang telah berlangsung turun-temurun.
Mayoritas wilayah Batu Ampar merupakan kawasan dataran tinggi dan berbukit, sehingga keberadaan lahan persawahan menjadi sesuatu yang langka. Namun, di Desa Telaga masih terdapat hamparan sawah kecil yang menjadi tumpuan harapan masyarakat untuk memenuhi sebagian kebutuhan pangan mereka. Di tengah keterbatasan tersebut, para petani tetap bekerja, memanfaatkan setiap jengkal lahan yang bisa digarap dengan penuh kesabaran dan ketekunan.
Camat Batu Ampar, Suriansyah, menyampaikan bahwa kondisi geografis merupakan faktor utama yang menyebabkan minimnya areal persawahan di wilayah tersebut.
“Batu Ampar tidak memiliki areal sawah luas karena kondisi geografisnya berupa dataran berbukit,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa lahan sawah yang berada di Desa Telaga, meskipun hanya sekitar 10 hektare, sejatinya masih memiliki peluang untuk dikembangkan lebih lanjut apabila mendapat perhatian dan dukungan dari pihak terkait.
“Lahan sawah kecil sekitar 10 hektare di Desa Telaga masih belum dioptimalkan,” katanya.
Menurut Suriansyah, meski hasil panen dari lahan tersebut belum memberikan kontribusi besar, keberadaannya tetap memiliki arti penting bagi ketahanan pangan tingkat lokal. Sawah itu menjadi simbol bahwa di tengah keterbatasan pun masih ada potensi yang bisa dikelola demi keberlangsungan hidup masyarakat.
Saat ini, pemerintah kecamatan tengah menjajaki kemungkinan kerja sama dengan dinas terkait agar para petani dapat memperoleh bantuan berupa alat-alat pertanian serta pendampingan teknis. Fokus pendampingan antara lain menyangkut pengelolaan sumber air dan penerapan metode tanam yang sesuai dengan karakteristik tanah di daerah berbukit.
“Harapan kami, lahan kecil itu bisa jadi contoh bahwa Batu Ampar juga punya potensi pertanian meski terbatas,” tutup Suriansyah.
Di antara hutan lebat dan perbukitan yang menjulang, Desa Telaga tetap menjaga nyala harapan melalui tangan-tangan petani yang setia menanam kehidupan di atas tanah yang keras, namun sarat akan makna dan harapan masa depan.(SH/ADV).
![]()









