Kutai Timur –Di tengah tren peralihan besar-besaran petani di Kalimantan ke komoditas kelapa sawit, masyarakat Kecamatan Kaliorang, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), justru mengambil langkah berbeda. Mereka memilih bertahan pada budidaya pisang, khususnya pisang kepok gerecek, yang dinilai lebih menguntungkan serta memiliki tingkat risiko usaha yang jauh lebih rendah.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kutim, Dyah Ratnaningrum, menyebut keputusan petani Kaliorang tersebut didasarkan pada pertimbangan ekonomi yang matang. Berdasarkan perhitungan analisa usaha tani, keuntungan yang diperoleh dari pisang kepok gerecek bahkan mampu melampaui komoditas sawit.
“Biaya produksinya tidak sebesar sawit, tetapi hasilnya bisa lebih cepat dirasakan dan menguntungkan,” jelas Dyah.
Ia menjelaskan bahwa salah satu keunggulan utama pisang terletak pada siklus panennya yang jauh lebih singkat. Dalam waktu sekitar sembilan bulan sejak tanam, pisang sudah dapat dipanen dan selanjutnya terus berproduksi secara berkelanjutan. Hal ini berbeda dengan sawit yang memerlukan waktu bertahun-tahun sebelum mulai menghasilkan.
“Pisang itu hampir setiap minggu bisa dipanen, dan pasarnya sudah jelas,” tambahnya.
Lebih jauh, Dyah mengungkapkan bahwa sejumlah kelompok tani di Kaliorang secara tegas menolak berbagai tawaran untuk mengalihfungsikan kebun pisang mereka menjadi kebun sawit. Pasalnya, hasil yang diperoleh dari pisang dinilai jauh lebih stabil dan menjanjikan dari waktu ke waktu.
“Di Dusun Golok, Kecamatan Kaliorang, satu kelompok tani bahkan bisa memperoleh omzet hingga Rp50 juta per minggu dari hasil penjualan pisang. Makanya mereka tidak mau beralih ke sawit,” ungkapnya.
Kisah para petani Kaliorang ini menjadi bukti bahwa komoditas lokal, jika dikelola dengan baik dan berkelanjutan, mampu menjadi penopang utama perekonomian masyarakat. Lebih dari sekadar hasil pertanian, pisang kepok gerecek telah menjelma menjadi bagian dari identitas dan kebanggaan warga Kutai Timur.
“Pisang kepok gerecek ini bukan hanya buah, tetapi juga menjadi simbol dan kebanggaan daerah kita,” tutup Dyah. ADV
![]()









