Kutai Timur – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menyoroti penurunan jumlah capung di beberapa wilayah sebagai tanda adanya penurunan kualitas lingkungan. Kepala Bidang Tata Lingkungan DLH Kutim, Adrian Wahyudi, menyampaikan bahwa capung, yang termasuk dalam kelompok odonata, memiliki peran penting sebagai indikator alami kesehatan ekosistem, khususnya pada lingkungan perairan dan kualitas udara di sekitarnya.
Menurutnya, keberadaan capung erat kaitannya dengan kondisi lingkungan yang bersih dan seimbang. Oleh karena itu, ketika populasinya mulai berkurang, hal tersebut menjadi isyarat bahwa terjadi gangguan pada keseimbangan ekosistem.
“Kalau jumlah capung mulai berkurang, itu pertanda kualitas lingkungan juga menurun,” ujarnya.
Adrian menjelaskan bahwa menurunnya populasi capung dipicu oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Penggunaan pestisida secara berlebihan di sektor pertanian menjadi salah satu penyebab utama karena bahan kimia tersebut berdampak langsung pada serangga dan sumber air yang menjadi habitat capung. Selain itu, polusi cahaya dari lampu-lampu perkotaan serta menyusutnya habitat alami akibat aktivitas pembangunan juga turut mempercepat penurunan jumlah capung di alam.
“Capung sensitif terhadap perubahan lingkungan. Begitu habitatnya rusak, mereka cepat hilang,” katanya.
Ia menegaskan bahwa fenomena ini seharusnya menjadi peringatan bagi seluruh lapisan masyarakat untuk lebih peduli terhadap kelestarian lingkungan. Upaya menjaga keseimbangan alam tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan semua pihak, mulai dari individu, komunitas, hingga pelaku usaha.
“Kalau capung saja sudah jarang terlihat, itu artinya ekosistem sedang tidak baik-baik saja,” tutupnya.ADV
![]()









