Kutai Timur – Bukan hanya peluh dan prestasi yang melekat pada dinding panjat tebing Kutim. Ada mimpi lebih tinggi yang kini coba diraih: menjadikan panjat tebing sebagai daya tarik wisata baru di jantung Kalimantan Timur.
Senin pagi (5/5/2025), halaman Kantor Bupati Kutai Timur menjadi saksi semangat muda yang menyala. Para atlet FPTI Kutim dilepas langsung oleh Bupati Ardiansyah Sulaiman untuk berlaga di Kejurprov Kaltim 2025. Namun, pelepasan ini bukan sekadar tradisi tahunan. Di baliknya, tersimpan visi jangka panjang: membangun sport tourism melalui olahraga panjat tebing.
“Kita ingin sarpras panjat tebing ditingkatkan. Bukan hanya untuk latihan, tapi bisa bertaraf internasional,” ujar Ardiansyah dengan optimisme.
Inspirasi itu datang dari kisah sukses turnamen mancing internasional (SIFT) di Pulau Miang pada 2023 lalu. Sekali gelaran, sorotan wisata langsung memancar. Homestay mendadak penuh, kunjungan wisata tak berhenti. Kini, panjat tebing di Bukit Pelangi ditargetkan mengikuti jejak yang sama.
Bayangkan Bukit Pelangi, bukan hanya sebagai arena latihan atlet, tapi juga sebagai panggung adrenalin bagi wisatawan nusantara hingga mancanegara. Panjat tebing, sunset, dan kicau burung hutan jadi satu paket pengalaman.
Namun tentu, mimpi ini butuh lebih dari sekadar imajinasi. Fasilitas panjat yang saat ini ada, dibangun sejak awal 2000-an, sudah waktunya dirombak total. Tak hanya dindingnya yang harus lebih tinggi dan aman, tapi juga pengelolaan profesional serta dukungan industri wisata lokal.
“Kita harus bersiap dari sekarang. Jangan sampai fasilitas kita ketinggalan saat dipercaya jadi tuan rumah event besar,” tegas Ardiansyah.
Strategi pengembangan sport tourism Kutim bisa dimulai dari sini: kolaborasi antar-OPD, pelatihan SDM pariwisata, promosi digital terpadu, hingga kemitraan dengan komunitas pecinta alam.
Karena pada akhirnya, tebing bukan sekadar tempat berlatih. Ia bisa jadi panggung baru untuk cerita-cerita hebat tentang Kutim: tentang keberanian, kerja keras, dan kebanggaan daerah.
Dan siapa tahu, satu hari nanti, wisatawan dari Tokyo atau Berlin datang ke Kutim bukan hanya untuk melihat hutan tropis—tapi untuk menjajal dinding panjat legendaris Bukit Pelangi. (SH)









