Kutai Timur – Pertumbuhan ekonomi Kutai Timur (Kutim) yang menembus 9,82 persen pada 2024 mendapat sorotan langsung dari Bupati Ardiansyah Sulaiman. Meski angka ini disebut mengesankan—bahkan melampaui capaian tahun sebelumnya yang hanya 7,71 persen—Ardiansyah memilih untuk tidak larut dalam euforia statistik.
“Ini mengerikan, sangat tajam naik nilainya. Tapi saya tidak ingin dengan pertumbuhan yang tinggi kita berpuas diri,” ucapnya dalam kuliah umum di STIENUS, Jumat (2/5/2025).
Ia menegaskan, pertumbuhan semacam ini belum tentu sejalan dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat secara luas.
Ardiansyah mengkritisi ketimpangan yang masih mengakar, terutama dalam distribusi pendapatan di tingkat mikro.
Ia menyinggung dominasi sektor besar seperti tambang dan perkebunan sawit dalam mendorong PDRB, yang justru seringkali menciptakan ketergantungan ekonomi tanpa memperluas pemerataan kesejahteraan.
Untuk menjawab tantangan tersebut, ia menawarkan pendekatan berbasis potensi lokal melalui program desa tematik—dari desa karet, nanas, hingga desa kelulut.
Namun, implementasi program ini pun tak lepas dari tantangan, termasuk infrastruktur, akses pasar, dan kapasitas produksi warga desa.
Sebagai kepala daerah, Ardiansyah menegaskan pentingnya mendorong hilirisasi ekonomi rakyat agar Kutim tak hanya menjadi penyedia bahan mentah bagi industri besar, tetapi juga mampu menciptakan nilai tambah yang langsung dinikmati masyarakat.
Pernyataan Ardiansyah mencerminkan kesadaran akan ironi pembangunan, yakni angka pertumbuhan tinggi yang tak selalu berbanding lurus dengan rasa keadilan ekonomi. Kini tantangannya, apakah Kutim mampu mengubah narasi itu? (SH)









